Senin, 27 April 2020






Penyesalan
Oleh: Nurul Latifah

Apakah kau tau makna sesungguhnya dari “memberi dengan ikhlas?” / memberi sesuatu kepada seseorang dengan tangan kanan tanpa tangan kiri mengetahuinya?. Aku dulu belum begitu memahaminya. Sebelum sesuatu yang membuatku menyesal hingga sekarang. Hal itu terjadi kala itu......

Juli, 25.
kau pernah mendengar pondok pesantren Al-Falah di daerah Pemalang yang terkenal itu? Aku tinggal di sana. Tidak! tidak seperti kebanyakan temanku yang selalu mengeluh dan mengomel tentang keinginannya untuk sekolah di SMA Negeri tetapi terhalang perintah orang tua yang mengharuskan mereka menyantri di pondok ini.

Ya.. memang bukan mustahil sekolah di SMA Negeri, akan tetapi kebanyakan santri disini lebih memilih sekolah swasta karena jarak yang dekat, dan tentunya tidak membutuhkan ongkos dan waktu berlebih untuk pulang pergi.

Disaat teman-temanku bercerita bagaimana mereka berusaha membujuk orang tua mereka untuk sekolah di SMA Negeri, aku senyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana jika mereka tau bahwa justru akulah yang memaksa bapakku untuk menyantri di sini? Hahaha lucu sekali membayangkannya.

DORR! Woee lan, wulan!” hampir terjengkang aku dibuatnya. Ah Sekar memang selalu seperti itu, diam-diam mengagetkanku.

opo sih kar, ngageti wae.(apa sih kar, mengagetkan saja).” Terjengkang aku dibuatnya. Ah sekar memang selalu seperti itu. Kukibas-kibaskan dengan keras sarungku yang kotor agar sekar melihatnya dan menyesal. Tetapi sudah kuduga, ia tidak pernah menyesal berbuat jail padaku.

Sudah kebal aku melihat kekonyolannya. Bahkan aku tidak pernah mengingat kapan kita berkenalan, karena memang sudah dari kita dalam kandungan, ibuku berteman dengan ibunya. Jangan tanyakan berapa kali aku dan sekar bertengkar, berapa kali kita rebutan mainan, bahkan sampai menjadi partner agen rahasia mengambil sabun colek ibu –yang waktu itu tinggal satu-satunya- untuk dicamur air dan menjadi balon gelembung dadakan.

Sabun itu akhinya kena tulahnya! ia terseruput olehku hingga masuk ke tenggorokan. Dan berakhirlah sudah partner agen rahasia dengan hukuman mencuci tumpukan piring dengan abu gosok karena sabun colek telah berakhir tragis di lambungku. Masih menjadi misteri kenapa aku tidak sakit bahkan diare sekalipun.

kamu itu lho.. di panggil malah senyum-senyum mesam mesem sendiri. Ooo aku ngerti lan. Kamu senengen toh tadi disuruh ro’an sama umi di deket aula santri putra itu. Hayo ngaku lan.” Mata Sekar menyipit sambil menuding-nuding kearahku.

sok tau kamu kar, udah ah. Aku mau mandi mumpung sepi habis di ro’an.” “aku habis kamu ya lan! Aku lan! Aku no.3!!” serempak mereka mengantri mandi dengan cara menyebut urutan masing-masing.

Sudah adatnya di sini mengantri mandi tidak dengan menunggu lama di depan kamar mandi. Cara tersebut dilarang oleh umi (pengasuh pondok putri) karena santri-santri akan mengantri berderet-deret sambil tidur dengan posisi duduk  di depan kamar mandi. Padahal waktu tersebut dapat digunakan untuk menghafal nadhom-nadhom atau belajar.

“hayo koe lan! Ngaku lan! Woee” terdengar dari kejauhan protes sekar yang ketika aku tanggapi akan menjadi-jadi.
Dia selalu saja mengurusi aku, bukan dalam konotasi negatif. Lebih kepada ia sering membantuku dan mendukung keputusanku yang entah kenapa hampir selalu sama dengannya. Sampai kemarin kelulusan SMP untuk pertama kalinya kita beda pendapat. Ia ingin masuk ke SMA Negeri sedangkan aku ingin menyantri di pondok pesantren.

Umumnya orang tua akan senang dan langsung menyetujui keputusan anaknya apabila ia ingin menyantri. Seperti teman-temanku yang bahkan diharuskan untuk nyantri di sini. Akan tetapi lain hal dengan orang tuaku dan sekar. Eits! Bukan berarti orang tua kami bukan muslim atau terlalu kontra dengan pesantren.

Akan tetapi orang tua kami sangat kejawen. Hingga mereka terbiasa mengirim anak-anaknya ke padepokan kraton. Atau yang sering orang-orang sebut pendopo.

Menurut cerita orang tua kami, padepokan tersebut sudah ada pada zaman buyutnya buyutku. Sistem pembelajrannya masih sama, mengaji kitab-kitab lawas dan budaya jawa.

Aku dan sekar dulu sering bermain di pendopo. Entah untuk ikut kakek mengaji demi menghindari omelan ibuku tentang PR yang tak kunjung aku kerjakan. Atau untuk titik kumpul bertemunya aku dengan partner agen rahasiaku, Sekar. Untuk membahas sandal mana yang kali kita sembunyikan atau kita gantung di pohon beringin.

Singkatnya, pendopo tersebut sudah seperti sekolah kedua kami. Maka demi mendengar anaknya ingin masuk ke pesantren, bapak berjingkat kaget. Karena sangat tidak wajar anak keturunan romo (pemilik padepokan sekaligus tokoh masyarakat yang sangat disegani dalam bidang budaya, sastra, maupun agama kejawen) memilih untuk menyantri di pondok pesantren yang modern.

Akan tetapi aku bersikukuh dengan pilihanku. Akupun meyakinkan bapak  bahwa aku, Wulan Sasti Mahawira, akan tetap belajar dan melastarikan budaya dan sastra yang telah diajarkan turun temurun. Oleh karena itulah bapak mulai luluh dan berakhirlah dengan Sekar yang terpaksa ikut denganku menyantri dan sekolah swasta.

 Sebenarnya Sekar bisa melanjutkan sekolah di SMP Negeri harapannya sambil tetap belajar di pendopo sepulang sekolah. Akan tetapi ia tetap memilih bersamaku walaupun kadang setiap hari ia mengeluh dengan pilihannya. Hahaha.

Juli, 26.
Hari ini adalah hari pertamaku sekolah di SMA. Semua serba baru, seragam, tas, alat tulis, sepatu. Semua sesuai harapan.
 Hanya wajah Sekar yang aku khawatirkan. Bagaimana tidak, ia dari bangun tidur hingga sekarang mematut diri di cermin dengan ekspresi wajah segelap TPU, tanpa memedulikan teman-teman lain yang dari tadi protes mengantri dibelakang sekar yang terlalu lama memakai kerudung putih barunya. Ia nampak sangat malas mungkin untuk pergi ke sekolah swasta itu.

Oh lupakan kata-kataku tadi. Lihat! Sekar bahkan sekarang sedang asik ria berkenalan sana sini dengan teman teman barunya. Sedang aku malas untuk mengikutinya.

Pikiranku bergelayut pada momen tadi, dimana aku heran melihat banyaknya sudra duduk meminta-minta kepada orang-orang yang lewat.

Termasuk aku yang melewati jalan tersebut untuk pertama kalinya keluar pondok ke sekolah. Merka berjejeran di sepanjang trotoar panas dengan muka kumal dan baju kurang layak pakai.

 Bahkan ada wanita yang membawa anak kecil umur 5 tahunan mungkin, tampak duduk menyender di bawah pohon petai cina sambil memangku anaknya. Mata mereka lagsung berbinar ketika ada pejalan kaki yang lewat trotoar tersebut. Mereka langsung menyodorkan bungkus permen, topi, atau kaleng bekas kepada para pejalan. Mataku memerah sembab karena teringat kejadian tersebut.
Dimana tadi aku langsung memberikan separuh uang sakuku untuk mereka, berharap mereka dapat makan apa yang aku makan hari ini.

Sejak saat itu, setiap sepulang sekolah aku bersemangat jalan kaki ditemani omelan Sekar yang bersikukuh tiap pagi untuk naik angkot saja, tetapi akhirnya ia tetap menemaniku berjalan kaki. Tujuanku jelas. Akan ku bagikan separuh uang sakuku untuk sudra-sudra ditrotoar!.

September, 25.
Dari sinilah kisah penyesalanku dimulai..

Berawal dari teman-temanku yang mengetahui aku sering membagikan separuh uang sakuku untuk para sudra trotoar itu.
Mereka protes dan menyebutkan kalau apa yang aku lakukan ini sia-sia. Mereka memberitahuku bahwa para sudra yang kuanggap sudra itu bukan keadaan mereka yang sebenarnya. Bahwa mereka itu golongan orang mampu secara ekonomi tetapi hanya malas bekerja.

kau tengok sajalah lan, rumah mereka eih sebetulnya besar-besar macam orang kota. Kau tak perlulah memberi percuma uang sakumu. Habis sudah eih uangmu kau pakai begitu. Tak ada untung. Tak ada guna. Tak kasian kau eih dengan orang tuamu yang susah payah mengirimimu uang hasil banting tulang! Ckck.” Seloroh dini, dengan logat riau khasnya. Tak taulah riau bagian mana dengan aksen khas seperti itu. Ia memang yang paling sebal mendengar cerita itu. Dini memang anak yang sangat rajin menabung. Ia anak yang sederhana dengan menabungkan uang sakunya untuk membayar syahriah pondok.

tak usalah kau hawatirkan wulan din. Bahkan seperempat uang sakunya eih kalau kau tau, takan membuat wulan kelaparan seminggu.” Ujar Sekar menirukan logat dini. Ia memang tidak pernah mengomentari kelakuanku, padahal tiap hari ia melihatnya. Yang ia komentari hanya soal rambutnya yang selalu berkeringat dan lehernya yang panas setiap kita jalan kaki.

hei! Macam mana pula eih uang segitu cukup untuk makan seminggu. Tapi bisa jadi sih, karna porsi makannya tak sebanyak kamu kar.” “Bwa Ha Ha Ha Ha Ha” terdengar gemuruh tawa anak-anak dikamarku.

Aku tidak peduli ketika Sekar emosi hingga terjadi adu lempar bantal dengan Dini. Yang ku pikirkan adalah ada benarnya ucapan mereka.

Malam itu kusimpulkan memang benar adanya bahwa aku menyia-nyiakan uang saku yang orang tuaku berikan. Hanya untuk diberikan kepada orang yang belum pasti membutuhkan. Semua cerita tersebut kutilis dalam surat, kububuhi tandatangan dan namaku sendiri di akhir surat.

Dari wulan,
Untuk ibu di rumah
....


Tak terasa dua minggu berselang, aku melupakan surat itu. Aku kembali fokus kepada pelajaranku di sekolah. Aku sudah berjanji kepada bapak aku akan lulus dengan baik!.

Akupun tak pernah lagi melewati trotoar. Karena aku sekarang selalu naik angkot. Tentunya hal itu direspon baik oleh sekar yang tidak lagi mengeluh setiap pagi.

Hingga tepat pukul 2 siang WIB, sebuah surat dengan namaku tertulis di kotak surat pondok. Tepat setelah aku pulang sekolah. Yess.. aku tau itu dari ibu.
Sudah lama aku tidak mendengar kabar dari ibu. Kabar adikku, Lanang Jagad, yang selalu dimanja ibu dan selalu mencari gara-gara denganku. Pasti ia senang sekarang aku tak lagi di rumah.

Tapi yang kudapati adalah surat lain... masih dari ibu, tetapi isinya bukan tentang keadaan di rumah, bukan tentang Lanang, bukan tentang bapak. Baris demi baris mulai kubaca...


Waalaikum salam nduk..
Ibu baik-baik saja, begitupun bapak. Si nduk tidak tanya kabar Lanang? Hehehe.


Nduk, ibu sudah baca ceritamu. Di sini ibu mau bilang, ibu selalu bangga mempunyai anak sholehah seperti si nduk wulan.. tapi melihat suratmu kemarin ibu sedih nduk...


Ibu selalu berpikir. Kenapa si nduk berpikiran seperti itu? Apa yang salah dengan memberikan uang saku yang ibu kirim untuk disedekahkan kepada sudra yang membutuhkan...?


Ketahuilah nduk, kau juga mungkin sudah mempelajarinya di padepokan bersama romo. Bahwasannya rasa empati itu susah ditemukan oleh orang-orang yang bebat atine nduk, mbatu. Maka bersyukurlah si nduk diberikan oleh Gusti Pangeran sifat empati yang seperti itu terhadap sudra.


Taukah kau nduk, pengetahuan ada batasnya. Oleh karena itu mucullah kata “barangkali” barangkali seseorang yang kau tolong memang benar-benar membutuhkan bantuanmu. 

Barangkali memang rejekimu itu adalah separuh dari uang sakumu. Barangkali orang yang memakai gelang emas satu lengan penuh tetapi ia memngemis, benar-benar sedang membutuhkan uang dan ia tidak dapat menjual emasnya dalam waktu dekat.

Sekaya apapun seseorang, jika ia meminta, artinya ia sedang merendahkan diri untuk meminta bantuanmu.


Sesering apapun kau memberi, takan merendahkan derajatmu dihadapan orang tersebut dan dihadapan Gusti Pangeran nduk.
Sekarang kau pikirkan lagi keputusanmu. Itu memang sederhana nduk, hanya separuh uang sakumu. Tapi pikirkanlah seberapa besar rasa empatimu yang terkikis nduk.. ibu yakin hatimu tau jawabannya.


Jangan terlalu dipikirkan juga nduk, nanti si nduk paham sendiri. Sekarang fokus nyantri lan ngelmu ya nduk, doakan ibu, doakan bapak, doakan Lanang..


Wassalamualaikum.


Mataku merah. Entah keberapa kalinya aku mengusap ingus dengan krudung abu-abuku. Ya Gusti.. apa yang aku pikirkan? Kenapa aku peduli dengan status orang yang telah aku sedekahi? Aku menganggap itu ikhlas? Ya Gusti, ikhlasmu lebih luas dari sekedar pikiran manusia...Astaghfirullahhal addzim.


Setember, 26.

“Haiihh... rambutku lepek, kringetan! Nek ngene iki tekan sekolah wes kucel kuwel!!.
Kudengar omelan Sekar lagi di pagi hari. Aku tersenyum, langkahku kupercepat. Aku ingin cepat sampai di trotoar!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar